Sabtu, 14 Maret 2009

Ketika Cinta Berbuah Nangka

Dia nampak mengurung diri terus di kamarnya hari ini. Wajahnya kusut karena belum mandi. Entah karena malas atau memang ada hal yang membuatnya belum mandi juga, mungkin ga ada air di rumah,atau bisa jadi air PDAM emang lagi macet (Loh? Kok jd ngomongin ga jelas gini y?). Namun yang jelas wajahnya terlihat sangat sedih atau lebih tepatnya menyedihkan (he..ga dink!). Matanya nanar seolah tak kuasa menumpahkan air mata yg sudah dari tadi ia tahan. Dalam keadaan seperti itu,tanpa sadar ia berucap dengan penuh isak...
"Gila...ni novel kok critanya sedih banget ya...?"
Diratapinya dengan penuh penghayatan cerita dalam novel yang mengisahkan perjalanan hidup pasangan muda yang komitmen menikah di usia muda.
"Wah,hebat banget,ya,si Halimah ini. Aku pengin deh seperti dia yang bisa jadi istri setia. Tapi apa ada cowok yang mau langsung meminangku tanpa pacaran? Ah...sudahlah! Ini kan cuma novel...."

Wah,wah,wah! Pembaca yg budiman, nampaknya tokoh kita yang satu ini udah keranjingan cerita novel nih.... Ia mulai membayangkan seandainya benar-benar ada pangeran yg tiba-tiba datang mempersuntingnya. Akan tetapi di saat itu juga tiba-tiba HPnya berbunyi karena ada sms masuk sehingga membuyarkan lamunannya itu.

'Assalamualaikum Dinda, U udh shlt isya lom? Bsk da PR g? Lez qlat!'

"Duh,si Rojali...ga tau ada orang lagi menghayati novel apa ya...? Perasaan saban hari smsnya itu-itu melulu..." gerutunya kemudian.

Sejurus kemudian, Dinda dengan cepatnya membalas sms itu.

'Waalaikumsalam sdr Rojali yg sy hrmti. Alhmdlillah q udh shlat. N mslh PR, sbnrX bsk da PR fska. Tp U g ush bgg cz bdsrkn info yg q dpt, kmgknn gru2 bsok mo pda ikt kondangan k sunatanX pa Somad. Eh,mksdX anakX pa Somad. Jd g da plajaran deh!'

Keesokannya di sekolah,ternyata kabar yang diterima itu benar. Hal ini membuat Dinda jadi ngerasa ge-er karena apa yang ia prediksikan benar-benar terjadi. Tiba-tiba Rojali menghampirinya.
"Din,thanks ya atas infonya! Eh,tar sore belajar bareng yuk!"ajak Rojali.

"Ah,loe Li...Aku salut ama loe.Jarang-jarang loh anak SMA seumuran kita yang ngajakin belajar bareng kaya loe. Paling kebanyakan ngajakinnya nonton," ucap Dinda.

"Emang kenapa? Ga boleh ya?" balas Rojali.

"Ya boleh lah...Siapa juga yang ngelarang? Ok,gue iku. Tapi pulangnya jangan malam-malam ya!"

"Ok deh kalo kaya gitu. Ntar aku ngajakin temen-temen lainnya juga ya!" jawab Rojali sambil meninggalkan Dinda.

Sorenya mereka belajar di rumah Rojali bersama membahas tugas fisika yang diberikan di sekolah. Andi si bintang kelas nampak antusias menjelaskan materi fisika. Demikian juga dengan Dinda, ia tak kalah antusiasnya karena ternyata Rojali menyuguhkan banyak makanan untuk teman-teman.

Sepulang dari sana, Dinda merasa ada sesuatu yang tidak biasa di rumah. Sesampainya di ambang pintu ibunya menyambutnya dengan air muka yang cerah. Terakhir,Dinda melihat air muka yang seperti itu saat ibunya memenangkan undian jalan santai berupa 1 set piring cantik berikut sabunnya. Ada apa ya? Di dalam juga sepertinya ada tamu.

"Assalamualaikum Bu,Dinda pulang! Ngomong-ngomong di dalam ada siapa Bu? Tamu ya Bu?"

"Oh...Waalaikumsalam. Dinda, sini kamu Nak!" ujar ibu sambil segera menarik tangan Dinda menjauh dari ambang pintu.

"Ibu ini kenapa sih? Aneh banget ih... Orang Dinda nanya bukannya dijawab malah ditarik-tarik kaya' kambing gini. Sebenernya ada apa sih Bu?"

"Bentar dulu Nak! Sini, dengerin dulu kata-kata ibu!" ucap ibu setengah berbisik.

"Gini Din,tadi pagi ayah kamu bertemu haji Zaenudin di warung. Kamu tau Nak, ayahmu dan haji Zaenuddin udah berteman lama. Dan hari ini ayahmu dan haji Zaenuddin ingin memulai sebuah ukhuawah baru diantara kalian," lanjut ibu.

"Jadi? Maksudnya apa Bu? Emangnya hubungannya ama Dinda apa?"tanya Dinda ikut-ikutan memelankan suaranya.

"Haji Zaenuddin bermaksud..."

"Haji Zaenuddin bermaksud menjodohkan anaknya dengan kamu..."

"Hah?! Apa?? Jadi Dinda mau dijodohkan dengan cowok yang Dinda ga kenal?? Tidak....!" timpal Dinda setengah tak percaya.





< Bersambung dulu yah . . . >

Jumat, 06 Maret 2009

MA'RIFATULLAH

Aqidah Islam adalah Aqidah Rabbaniy (berasal dari Allah) yang bersih dari pengaruh penyimpangan dan subyektifitas manusia. Aqidah Islam memiliki karakteristik berikut ini:

- Al Wudhuh wa al Basathah ( jelas dan ringan) tidak ada kerancuan di dalamnya seperti yang terjadi pada konsep Trinitas dsb.
- Sejalan dengan fitrah manusia, tidak akan pernah bertentangan antara aqidah salimah (lurus) dan fitrah manusia. Firman Allah : “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah..” (QS. 30:30).
- Prinsip-prinsip aqidah yang baku, tidak ada penambahan dan perubahan dari siapapun. Firman Allah :”Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan lain selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah ?“ (QS. 42:21).
- Dibangun di atas bukti dan dalil, tidak cukup hanya dengan doktrin dan pemaksaan seperti yang ada pada konsep-konsep aqidah lainnya. Aqidah Islam selalu menegakkan : “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar” (QS 2:111).
- Al Wasthiyyah (moderat) tidak berlebihan dalam menetapkan keesaan maupun sifat Allah seperti yang terjadi pada pemikiran lain yang mengakibatkan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya. Aqidah Islam menolak fanatisme buta seperti yang terjadi dalam slogan jahiliyah “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka” (QS. 43:22).

PENGERTIAN MA'RIFATULLAH

Ma'rifatullah (mengenal Allah) bukanlah mengenali dzat Allah, karena hal ini tidak mungkin terjangkau oleh kapasitas manusia yang terbatas. Sebab bagaimana mungkin manusia yang terbatas ini mengenali sesuatu yang tidak terbatas?. Segelas susu yang dibikin seseorang tidak akan pernah mengetahui seperti apakah orang yang telah membuatnya menjadi segelas susu.

Menurut Ibn Al Qayyim : Ma'rifatullah yang dimaksudkan oleh ahlul ma'rifah (orang-orang yang mengenali Allah) adalah ilmu yang membuat seseorang melakukan apa yang menjadi kewajiban bagi dirinya dan konsekuensi pengenalannya”.

Ma'rifatullah tidak dimaknai dengan arti harfiah semata, namun ma'riaftullah dimaknai dengan pengenalan terhadap jalan yang mengantarkan manusia dekat dengan Allah, mengenalkan rintangan dan gangguan yang ada dalam perjalanan mendekatkan diri kepada Allah.

CIRI-CIRI DALAM MA'RIFATULLAH

Seseorang dianggap ma'rifatullah (mengenal Allah) jika ia telah mengenali:
- asma' (nama) Allah
- sifat Allah dan
- af'al (perbuatan) Allah, yang terlihat dalam ciptaan dan tersebar dalam kehidupan alam ini.

Kemudian dengan bekal pengetahuan itu, ia menunjukkan :
- sikap shidq (benar) dalam ber -mu'amalah (bekerja) dengan Allah,
- ikhlas dalam niatan dan tujuan hidup yakni hanya karena Allah,
- pembersihan diri dari akhlak-akhlak tercela dan kotoran-kotoran jiwa yang membuatnya bertentangan dengan kehendak Allah SWT
- sabar/menerima pemberlakuan hukum/aturan Allah atas dirinya
- berda'wah/ mengajak orang lain mengikuti kebenaran agamanya
- membersihkan da'wahnya itu dari pengaruh perasaan, logika dan subyektifitas siapapun. Ia hanya menyerukan ajaran agama seperti yang pernah diajarkan Rasulullah SAW.

Figur teladan dalam ma'rifatullah ini adalah Rasulullah SAW. Dialah orang yang paling utama dalam mengenali Allah SWT. Sabda Nabi : “Sayalah orang yang paling mengenal Allah dan yang paling takut kepada-Nya”. HR Al Bukahriy dan Muslim.

Hadits ini Nabi ucapkan sebagai jawaban dari pernyataan tiga orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan keinginan dan perasaannya sendiri.

Tingkatan berikutnya, setelah Nabi adalah ulama amilun ( ulama yang mengamalkan ilmunya). Firman Allah : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. 35:28).

Orang yang mengenali Allah dengan benar adalah orang yang mampu mewarnai dirinya dengan segala macam bentuk ibadah. Kita akan mendapatinya sebagai orang yang rajin shalat, pada saat lain kita dapati ia senantiasa berdzikir, tilawah, pengajar, mujahid, pelayan masyarkat, dermawan, dst. Tidak ada ruang dan waktu ibadah kepada Allah, kecuali dia ada di sana. Dan tidak ada ruang dan waktu larangan Allah kecuali ia menjauhinya.

Ada sebagian ulama yang mengatakan : “Duduk di sisi orang yang mengenali Allah akan mengajak kita kepada enam hal dan berpaling dari enam hal, yaitu : dari ragu menjadi yakin, dari riya menjadi ikhlash, dari ghaflah (lalai) menjadi ingat, dari cinta dunia menjadi cinta akhirat, dari sombong menjadi tawadhu' (randah hati), dari buruk hati menjadi nasehat”.

URGENSI MA'RIFATULLAH

Ma'rifatullah adalah puncak kesadaran yang akan menentukan perjalanan hidup manusia selanjutnya. Karena ma'rifatullah akan menjelaskan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Ketiadaan ma'rifatullah membuat banyak orang hidup tanpa tujuan yang jelas, bahkan menjalani hidupnya sebagaimana makhluk hidup lain (binatang ternak). (QS.47:12).

Ma'rifatullah adalah asas (landasan) perjalanan ruhiyyah (spiritual) manusia secara keseluruhan. Seorang yang mengenali Allah akan merasakan kehidupan yang lapang. Ia hidup dalam rentangan panjang antara bersyukur dan bersabar.

Sabda Nabi : Amat mengherankan urusan seorang mukmin itu, dan tidak terdapat pada siapapun selain mukmin, jika ditimpa musibah ia bersabar, dan jika diberi karunia ia bersyukur” (HR.Muslim)

Orang yang mengenali Allah akan selalu berusaha dan bekerja untuk mendapatkan ridha Allah, tidak untuk memuaskan nafsu dan keinginan syahwatnya.

Dari Ma'rifatullah inilah manusia terdorong untuk mengenali para nabi dan rasul, untuk mempelajari cara terbaik mendekatkan diri kepada Allah. Karena para Nabi dan Rasul-lah orang-orang yang diakui sangat mengenal dan dekat dengan Allah.

Dari Ma'rifatullah ini manusia akan mengenali kehidupan di luar alam materi, seperti Malaikat, jin dan ruh.

Dari Ma'rifatullah inilah manusia mengetahui perjalanan hidupnya, dan bahkan akhir dari kehidupan ini menuju kepada kehidupan Barzahiyyah (alam kubur) dan kehidupan akherat.

SARANA MA'RIFATULLAH

Sarana yang mengantarkan seseorang pada ma'rifatullah adalah :

1. Akal sehat

Akal sehat yang merenungkan ciptaan Allah. Banyak sekali ayat-ayat Al Qur'an yang menjelaskan pengaruh perenungan makhluk (ciptaan) terhadap pengenalan al Khaliq (pencipta) seperti firman Allah : Katakanlah “ Perhatikanlah apa yang ada di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS 10:101 atau QS 3: 190-191).

Sabda Nabi : “Berfikirlah tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Allah, karena kamu tidak akan mampu” HR. Abu Nu'aim

2. Para Rasul

Para Rasul yang membawa kitab-kitab yang berisi penjelasan sejelas-jelasnya tentang ma'rifatullah dan konsekuensi-konsekuensinya. Mereka inilah yang diakui sebagai orang yang paling mengenali Allah. Firman Allah:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan ) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan..” QS. 57:25

3. Asma dan Sifat Allah

Mengenali asma (nama) dan sifat Allah disertai dengan perenungan makna dan pengaruhnya bagi kehidupan ini menjadi sarana untuk mengenali Allah. Cara inilah yang telah Allah gunakan untuk memperkenalkan diri kepada makhluk-Nya. Dengan asma dan sifat ini terbuka jendela bagi manusia untuk mengenali Allah lebih dekat lagi. Asma dan sifat Allah akan menggerakkan dan membuka hati manusia untuk menyaksikan dengan seksama pancaran cahaya Allah. Firman Allah:

“Katakanlah : Serulah Allah atau serulah Ar Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asma' al husna (nama-nama yang terbaik) (QS. 17:110).

Asma' al husna inilah yang Allah perintahkan pada kita untuk menggunakannya dalam berdoa. Firman Allah :

“Hanya milik Allah asma al husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma al husna itu…” (QS. 7:180).

Inilah sarana efektif yang Allah ajarkan kepada umat manusia untuk mengenali Allah SWT (ma'rifatullah). Dan ma'rifatullah ini tidak akan realistis sebelum seseorang mampu menegakkan tiga tingkatan tauhid, yaitu : tauhid rububiyyah, tauhid asma dan sifat. Kedua tauhid ini sering disebut dengan tauhid al ma'rifah wa al itsbat (mengenal dan menetapkan) kemudian tauhid yang ketiga yaitu tauhid uluhiyyah yang merupakan tauhid thalab (perintah) yang harus dilakukan.

wallahu'alam. (by. MPK)

Senin, 02 Februari 2009

MACAM-MACAM GAYA HIDUP

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kalian tentang Allah.” (Fathir:5)
Makna Gaya Hidup
Gaya hidup boleh kita artikan, pola tingkah laku sehari-hari yang patut dijalankan oleh suatu kelompok sosial di tengah masyarakat, sesuai tuntunan agama. Seperti melakukan kebiasaan yang baik untuk menciptakan hidup sehat setiap hari, sebaliknya menghindari kebiasaan buruk yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Dewasa ini bangsa kita menghadapi persoalan serius dalam masalah gaya hidup, hingga ada pameo; selagi muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk sorga. Imbas dari terbukanya jalur transportasi, komunikasi dan informasi membuat sebagian masyarakat kita terjebak dalam pola hidup instan. Lidahnya, cicipan dan penampilannya seperti bukan dirinya yang dulu, yang sederhana dan tampil apa adanya.
Rupa-rupa Gaya Hidup
Gaya hidup banyak dipengaruhi oleh cara pandang kehidupan seseorang baik terhadap pedoman hidup, tujuan hidup, dasar hidup, kawan dan lawan hidup. Gaya hidup juga dipengaruhi oleh kemajuan infrastruktur dan fasilitas modern yang dimiliki, di samping tentunya latarbelakang agama, pendidikan, etnis dan lingkungan tempat ia tinggal.
Secara khusus gaya hidup dipengaruhi oleh tingkat keimanan seseorang terhadap yaumul akhir. Kesimpulan ini terangkum dalam firman Allah: “Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus-menerus. la bertanya: Bilakah hari kiamat itu datang?” (al-Qiyamah: 5-6)
Dengan iman terhadap yaumul akhir, manusia menjadi takut berbuat yang menyalahi aturan hidup Islami. Sebaliknya dia akan pandai berhitung atau menghisab diri dengan amal dan muhasabah. Dia akan selalu semangat mengejar karunia, pahala kebaikan serta janji penghapusan dosa dari Allah s.w.t. (al-Ghasyiyah:25-26)
TIGA GAYA HIDUP
Al-Qur’an membagi gaya hidup manusia berdasarkan agama yang ia anut menjadi 3 (tiga) bagian utama, yaitu:
1. Gaya hidup musyrikin
Ciri-cirinya: Dalam pandangan kaum musyirikin, hidup ini sebatas di dunia fana ini saja, tak ada kehidupan setelah mati (al-An’am:29,32, al-’Ankabut:64). Karena itu, golongan ini bercita-cita sedapat mungkin untuk bisa hidup di dunia ini seribu tahun lagi (al-Baqarah:96). Mereka berkeyakinan, bahwa tidak ada balasan siksa (neraka) maupun pahala (sorga). Allah berfirman: “Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan”. (Qs.6:29). Akibatnya, mereka memandang hidup ini, tidak lebih dari permainan dan senda-gurau (la’ibun wa lahwun). “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185).
Gaya hidup seperti ini, mengarah pada pola pragmatis, yaitu melihat kehidupan dengan kacamata ada tidaknya manfaat bendawi dalam semua hal, termasuk dalam hal pertemanan. Orang yang berpandangan pragmatis cenderung materialistik dan permisivisme (menghalalkan segala cara). Norma-norma susila, hukum dan agama ditepiskannya. Halal-haram ia langgar, yang penting baginya, tujuan dan kepentingan dunia tercapai. Gaya hidup seperti ini, lama-kelamaan berpotensi melahirkan sekularisme dan komunisme. Di mana fungsi agama menjadi mandul bahkan menganggapnya sebagai musuh kemajuan. “majulah bersama dunia, tinggalkan agama,” begitu ideologi yang muncul dari pola hidup pragmatis
Gaya hidup seperti ini dikoreksi oleh Alllah s.w.t lewat firman-Nya, seperti dalam kutipan ayat di atas.
2. Gaya hidup ahlul kitab
Ketika Rasulullah diutus, secara umum gaya hidup ummat manusia dibagi dua; ada yang mengikuti pola ahlul kitab, yaitu Yahudi dan Nashrani; dan ada yang mengikuti pola Zanadiqah yaitu agama yang tidak puny a basis kitab suci, mereka terdiri ahlul ilhad (pengingkar), ahlu dhalal (golongan sesat) dan ahlul jahl (bodoh terhadap Tuhan). Adapun gaya hidup Ahlul kitab antara lain dapat disimak dalam surat at-Takatsur, yaitu gaya hidup hedonistis (Yahudi) dan materialistis (orang Arab) di zamannya.
Pola hidup Quraisy
Ibnu Abbas, Muqatil dan al-Kalbi meriwayatkan: B ani Abdi Manaf dan Bani Sahm, keduanya punya kebiasaan tidak baik di tengah kaum muslimin, karena suka pamer kehormatan dan keglamouran. “Apa yang kalian punya, pada kami juga ada bahkan lebih banyak dari yang kalian punya.” Simbol kehormatan sosial mereka adalah kekayaan, keberanian dan ketangkasan mengalahkan lawan. Ayat ini adalah sebagai jawaban balik atas sikap mereka.
Gaya hidup Yahudi
Muqatil dan Qatadah (mufassir Tabi’in), juga mufasir lain melaporkan: surat at-Takatsur turun menyangkut gaya hidup mewah Yahudi, mereka mengatakan: “Kekayaan kami lebih banyak dari suku manapun. Komunitas kami, juga lebih banyak dari kalian. Gaya hidup demikian, sampai membuat mereka lupa daratan, hingga pada umumnya mereka hidup dan mati dalam keadaan sesat.”
Pola hidup Munafikin
Ibnu Abi Hatim dari Abu Sa’id al-Asyji dari Abu Usamah dari Shalih bin Hayyan dari Ibnu Buraidah, ia berkata: Ayat ini turun sebagai counter terhadap kemewahan dan kebanggaan antara mereka. Satu dengan yang lain membanggakan jago-jagonya. “Adakah di antara kalian yang setara dengan status sosial Fulan bin Fulan.” Keduanya tidak ada hentinya membanggakan prestasi etnis dan harta kekayaan kawanny a yang masih hidup (menjabat), sampai pergi kekuburan. Dan beralihlah kebanggaan dari yang hidup kepada yang mati.”
Dapat disimpulkan bahwa: bahwa gaya hidup glamour dan pamer kemewahan seperti diuraikan di atas; bagi orang kafir adalah sebagai “istidrdj” yaitu menjerumuskan mereka dengan berangsur-angsur kepada kerugian, walaupun dari penampilan luar, mereka beruntung. Sedang bagi orang-orang mukmin kenikmatan hidup ini merupakan “fitnah” yaitu cobaan, apakah ia mampu dan sanggup menggunakan dan memanfaatkannya kepada hal-hal yang diridhai Allah swt. atau tidak?
3. Gaya hidup Islami
Antara lain dapatdisiniakdalamfirmanAllah: “Dan carilah pada apayang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, danjanganlah kamu melupakan bagianmu dari (keni’matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, danjanganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(al-Qashash:77)
Ada tiga kesimpulan utama yang bisa ditarik dari ayat ini:
pertama, pola keseimbangan dalam hidup (dunia-akhirat)
kedua, pola hidup tetap Ihsan
ketiga, pola hidup tidak merusak
Pada ayat sebelumnya Allah s.w.t menerangkan empat macam nasihat dan petunjuk yang ditujukan kepada Qarun sebagai gambaran gaya hidup materialisme dan hedonisme. Barangsiapa mengamalkan nasihat dan petunjuk itu, niscaya akan memperoleh kesejahteraan di dunia dan di akhirat kelak, yaitu :
1.asas pemanfaatan harta,
2.asas kesederhanaan dan pola hidup bersahaja
3.hidup dengan amal jama’I
4.saling mencegah dari pola hidup merusak.
Gaya Hidup Dalam Bahasa Kesehatan
Di atas sudah dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan gaya hidup sehat adalah “segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan.” (Hasil Konferensi Nasional Promosi Kesehatan 2003)
Secara umum gaya hidup sehat ialah pola hidup berdasarkan aturan;baik aturan agama (wahyu), aturan negara (hukum) dan aturan kesehatan (lingkungan). Dari sini makin terasa, bahwa sehat adalah kebutuhan dasar yang harus diperjuangkan
Setidaknya ada 3 (tiga) gaya hidup sehat menurut pilar Visi “Indonesia Sehat” yaitu:
1.tidak merokok dan madat
2.beraktivitas fisik secara cukup, dan
3.mengkonsumsi makanan bergizi.
Dengan 3 pilar ini ungkap sebuah penelitian, penyakit tekanan darah tinggi dapat berkurang 55%; stroke & jantung koroner dapat berkurang 75%; diabetes dapat berkurang 50%; tumor dapat berkurang 35%, usia rata-rata dapat diperpanjang 10 tahun ke atas dari rata-rata usia harapan hidup manusia Indonesia. Semua ini diraih tanpa mengeluarkan uang sesen pun! jadi gaya hidup sehat sangat mudah, tapi efeknya luar biasa.
Manfaat Ukhrawi Gaya Hidup Sehat
1.Dapat melakukan serang-kaian ibadah ‘ammah maupun khasshah secara sempurna (ada’an) termasuk dapat bersilaturahim dan menjalin persahabatan dengan orang lain. Rasulullah s.a.w bersabda: Dari Jabir ia berkata: Rasulullah s.a.w pernah menjenguk sahabat yang sakit. Nabi melihat orang itu shalat dengan duduk di atas bantal. Beliau membuang bantal itu, sambil bersabda: “Shalatlah di tanah, jika mampu. Bila tidak, kerjakan dengan isyarat. Jadikanlah sujudmu lebih rendah dari rukukmu.” (HR. Baihaqi dalam as-Sunan (2/306), disahihkan oleh Imam Abu Hatim).
2.Bisa bekerja mencari nafkah dengan baik, sesuai bunyi do’a setelah makan. “Dari Abi Umamah bahwasanya Nabi SAW adalah apabila telah selesai dari makannya atau makanan diangkat dari meja makan beliau berdo’a yang artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah mencukupi kami dan memberi minum kami, yang memberi makan bukan yang diberi makan dan bukan diingkari nikmatnya.” Terkadang
Nabi mengucapkan: “segala puji bagi Allah Tuhan Kami yang senantiasa mencukupi, tidak meninggalkan kami dan selalu mencukupi kebutuhan kami, duhai Tuhan kami.” (HR. Bukhari (II 106no.:5142-5143), al-Hakim (I/203/ 2003)) Ahmad (Musnad Syamiyin, Juz IV)
3.Kesehatan itu adalah mahkota bagi kehidupan manusia yang harus dilestarikan. Melepaskan mahkota kesehatan berarti menjerumuskan hidupnya pada kehancuran.
Kecuali itu, Kesehatan termasuk bagian pokok dari sumber kebahagiaan manusia:
Hamid Allaffaf berkata: “Kami telah mencari empat macam hal pada empat tempat, tapi kami keliru jalan, ternyata kami temukan ke empat macam hal itu pada empat tempat yang lain:
1.Kami telah berusaha menjadi orang kaya dengan cara mengumpulkan harta, ternyata kekayaan itu kami dapati di dalam hati yang mencukupkan dengan apa yang ada (qana ‘ah);
2.Kami telah berusaha mencari suasana senang dan santai dengan memiliki banyak fasilitas, tapi ternyata perasaan santai itu justru kami dapati setelah kami tidak memiliki apa-apa;
3.Kami telah berusaha mencari kenikmatan dengan memakan makanan-makanan yang enak-enak, tapi ternyata kenikmatan itu ada pada badan yang sehat;
4.Kami telah mengejar uang (rizqi) di muka bund, ternyata rezeki itu kudapati ada di langit.(lmam Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Isti’dadLi Yaum al-Ma’ad, Bab: Ruba’iy. Get. Maktab al-Islami, tth.hal. 49)).
Sumber : Buletin Dakwah No. 04 Thn.XXXV Jum’at ke-4 25 Januari 2008



DUNIA remaja sering dilukiskan sebagai wilayah perbatasan yang mengandungi ketidakpastian.
Batas antara masa kanak-kanak yang romantis dan masa dewasa yang utopia, tergores indah dalam keremajaan. Kerana keremajaan adalah kenangan dan harapan, masa lalu sekali gus masa depan. Merenungkan masa lalu mengenai peranan keremajaan lantas melakukan lompatan kuantum prediksi ke masa depan, akan memaksa kita untuk melihat sosok dunia remaja yang menggejala zaman kita. Sebuah genre budaya anak muda sebagai sebab sekali gus akibat tumbuhnya budaya popular yang seterusnya mencitrakan gaya hidup remaja.
Membicarakan gaya hidup remaja dengan mengandaikan adanya keikhlasan dalam kehidupan mereka yang dapat dilihat perbezaannya dari gaya hidup kelompok lainnya. Namun pada saat kita mahu menempatkan remaja sebagai satu kelompok sosial, mulai timbul masalah remaja gerangan mana yang dimaksudkan?
Belum lagi ditambah tanda tanya; adakah suatu gaya hidup yang dapat menyebabkan kelompok remaja menjadi berbeza dari kelompok lainnya yang bukan remaja, misalnya? Begitu pula, menempatkan kelompok ini hanya atas dasar usia, yakni mereka yang berusia belasan tahun, tentulah tidak akan punya makna apa pun, kecuali dikaitkan dengan situasi sosial yang melingkupinya.
Kerananya bukan hanya faktor usia ini yang paling pokok sebagai ciri kelompok sosial, tetapi latar sosio-budaya di mana remaja itu berada kiranya akan lebih berperanan untuk melihat sosok kelompok dengan gaya hidupnya.
Gaya hidup sebagai pembeza kelompok akan muncul dalam masyarakat terbentuk atas dasar stratifikasi sosial. Setiap kelompok dalam struktur sosial tertentu akan memiliki gaya hidup yang khas. Dapat dikatakan bahawa gaya hidup inilah yang menjadi simbol prestij dalam sistem stratifikasi sosial. Dalam struktur stratifikasi inilah, gaya hidup dapat dilihat dari barang-barang yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari, cara berperilaku, cara bersosial, sampai bahasa yang digunakan tidak tujuan berkomunikasi semata-mata tetapi juga untuk simbol identiti. Dalam struktur semacam inilah, kita melihat gaya hidup remaja dibentuk dalam kelasnya masing-masing.
Lihatlah golongan remaja dengan segala macam ragamnya di pusat membeli belah, panggung-panggung hiburan, dan tidak kurang pula cara hidup hedonis yang sering dipaparkan dalam media masa. Dan, paling membimbangkan konsumsi secara besar-besaran pil Ecstasy yang mudah didapati seperti mana yang dilaporkan dikatakan mendatangkan keasyikan dan keghairahan yang nikmatnya hanya diketahui oleh penggunanya.
Gaya hidup sebenarnya merupakan suatu rangkuman dan keseluruhan dari cara, tata, kebiasaan, pilihan serta objektif-objek yang mendukungnya, yang mana perlaksaannya dilandaskan oleh sistem atau sistem kepercayaan tertentu.
Oleh kerana gaya hidup merupakan keseluruhan dari objek-objek perilaku sosial yang berkaitan dengan objek tersebut, maka dapat dikatakan bahawa gaya hidup itu dapat menghasilkan kombinasi objek-objek, dan sebaliknya rangkuman objek-objek dapat membentuk gaya hidup. Ini termasuk cara berpakaian, gaya makan, jenis bacaan yang dikatakan perluahan dari cara kelompok masyarakat mengaitkan hidup mereka dengan keadaan kewujudan mereka.
Gaya hidup sebenarnya mencerminkan kesedaran kelas kelompok masyarakat tertentu termasuk masyarakat remaja, dan dengan demikian ia merupakan satu bentuk ideologi kelas.
Dengan kata lain, gaya hidup sebenarnya satu pengungkapan makna sosial dan budaya. Setiap bentuk penggunaan waktu, ruang dan objek mengandungi di dalamnya aspek-aspek pertandaan, simbol dan semiotik yang mengungkapkan makna sosial dan budaya tertentu. Dalam hal ini, gaya visual merupakan bahagian yang tidak dapat dipisahkan dari gaya hidup. Dalam era globalisasi maklumat, gaya visual yang berperanan besar dalam membentuk gaya hidup adalah iklan. Iklan tidak saja merepresentasikan gaya hidup bahkan juga ‘menaturalisasikannya’. Terdapat perbezaan mendasar antara cara iklan masa kini menggambarkan gaya hidup dibandingkan masa sebelumnya, berkat teknologi komunikasi yang canggih . Kini, gaya hidup yang ditawarkan iklan menjadi lebih canggih dan beraneka ragam dan lebih bebas sifatnya.
Ertinya, ia tidak lagi menjadi milik eksklusif kelas tertentu dalam masyarakat. Begitu banyak gaya yang ditawarkan dan setiap orang bebas termasuk remaja memilih dan membeli gaya peribadinya yang diinginkan. Iklan masa kini tidak lagi menekankan citra kelas tertentu melainkan citra ‘neutral’ yang mudah diikuti dan ditiru oleh setiap orang.
Manakala istilah ekstasi menurut Jean Baudrillard, pemikir Perancis tersohor dalam bukunya Ecstasy of Communication (1987) adalah suatu keadaan mental dan ’spiritual’ yang mencapai titik puncaknya, ketika jiwa secara tiba-tiba naik ke tingkat pengalaman yang jauh lebih dalam dibandingkan kesedaran sehari-hari, sehingga pada ketika itu muncul semacam kemampuan diri dan kebahagian yang luar biasa. Di dalam ekstasi gaya hidup, manusia hidup seakan-akan di alam mimpi, ilusi, fantasi dan halusinasi estetika yang dibentuk tidak hanya dalam pengertian sosio-ekonomi dan politik tetapi juga ideologi.
Lantas gaya hidup menjadi ’segala-galanya’ dan ’segala-galanya’ adalah gaya hidup. Dalam gaya hidup, penampilan dan gaya lebih penting dari ‘moraliti’ di saat citra-citra meminggirkan persoalan baik dan buruk dalam ‘permainan rumit gaya-gaya’ dan keterbalikan makna-makna dan simbol-simbol.
Dalam keadaan demikian, ukuran-ukuran kewajaran porak peranda berlangsung demi memenuhi tuntutan gaya-gaya yang terus berubah-ubah dan tanpa henti ditawarkan.
Menurut Kenneth J. Gergen dalam The Saturated self; Dilemmas of identity in contemporary life (2000), ”Dengan teknologi canggih, kita memperolehi pandangan dan nilai-nilai dari seluruh sudut dunia. Kita juga mengambil banyak isyarat dari media, sehingga identiti kita kini terus berubah dan kembali diarahkan, sebagaimana kita bergerak mengharungi lautan hubungan atau relasi yang terus berubah. Manusia hanyalah sekadar satu unit yang sangat sederhana dari sebuah relasi atau hubungan. Kita menyedari apa dan siapa pun kita bukanlah merupakan hasil dari esensi keperibadian,melainkan bagaimana kita dibentuk atau dikonstruksi di dalam masyarakat”.
Di sebalik apa yang dibentuk, terlihat akan wujudnya keasyikkan terhadap hal-hal yang ada diluar kesedaran yang asli membuat kita mudah meniru dan mudah dipengaruhi, mudah tertipu akan kenikmatan-kenikmatan sesaat, ketakjuban akan kebahagiaan yang palsu, dan kerinduan untuk terus berbelanja, untuk terus hidup dalam gaya. Tidak hairanlah di pentas pemujaan akan gaya hidup, wujud semacam ”ketidaksedaran yang disedari” dan ”kesedaran yang tidak disedari”.
Di antara batasan kedua wilayah ini, masyarakat terus ditanam dan ‘dibius’ dengan aneka warna nilai-nilai yang ditawarkan dari segenap penjuru dunia yang memaksa semacam ketidaksedaran massa. Ketidaksedaran ini sebagai ”kesedaran baru’ yang tidak lebih dari simbol-simbol fantasi yang menjurus ekstasi gaya hidup popular yang hanya mementingkan permukaan, penampilan,hiburan dan ‘Permainan tanda-tanda’ yang tanpa kedalaman ada yang tidak mengacu kepada realiti yang sebenar.
Ekstasi gaya hidup yang berlaku melalui iklan yang diwarnai oleh teknologi canggih akhirnya membentuk kebudayaan popular yang didalangi oleh wacana kapitalisme dan akhirnya membentuk semua produk termasuk budaya sebagai industri dan komoditi. Budaya popular atau pop dapat dimengerti secara luas sebagai kepercayaan-kepercayaan, praktik-praktik dan objek-objek melalui mana ia disusun atau diorganisasikan.
Kebudayaan popular ini cukup kaya dengan muatan komersial, halus ideologinya tetapi hampas estetikanya. Kebudayaan popular lantas menjadi sarana dominasi baru. Ia menjadi pusat pergulatan budaya global yang membawa arus imperialisme budaya negara maju lalu menciptakan imperialisme media dan teknologi yang mempengaruhi minda dan gaya hidup yang berpusat jauh di luar wilayah kesedaran budaya masyarakat dunia.
Dalam kebudayaan popular, citra telah mengalahkan realiti. Kekuatan citra inilah yang mewarnai apa yang disebut sebagai imagologi.
Dalam hal ini, pengeluar atau produser budaya citra adalah juga produser ideologi; dan sekaligus pendefinisi kenyataan. Dengan kemenangan imagologi, pengiklan, pemodal, penata rambut, pencipta peralatan gimnastik, bintang artis, sebagai contohnya telah mendoktrin ideal-ideal kecantikan, norma-norma keindahan tubuh menerusi Internet, televisyen, iklan filem dan juga olahraga. Tidak hairan juga program gaya hidup sudah menjadi pakej-pakej komersial, jadilah urusan kecantikan tidak sekadar mewajahkan diri di depan cermin, tetapi sudah menjadi gaya hidup secara menyeluruh.
Dalam perkembangan kebudayaan popular selanjutnya, kelompok remajalah yang sering menjadi ‘mangsanya’ yang memang terkenal dengan segala macam kompleksiti permasalahannya.
Remaja dalam kebudayaan popular dapat ditemukan dalam berbagai cerita yang menjadikan remaja sebagai hero dan heroinnya, atau lagu-lagu yang bertemakan masalah yang dihadapi remaja, atau informasi yang mengungkapkan keinginan dan gaya hidup lainnya untuk remaja. Keremajaan memang menarik, tetapi yang utama sebenarnya bukan unsur yang terkandung dalam ‘kerejamaan’ itu, melainkan potensi golongan remaja sebagai konsumer atau pembeli.
Maka semua produk budaya massa yang ada akan mereka habiskan bersamaan dengan gaya hidup nikmat dan bertambahnya waktu luang mereka. Fenomena remaja ini memang lebih menarik untuk ditonton dan dipertontonkan, seperti kisah kasih, atau percintaan dan sukses mereka yang sering menjadi latar dan setting cerita. Latar belakang kehidupan yang dibayangkan sering tanpa kedalaman. Sukses dan prestasi dianggap sebagai sesuatu yang segera.
Tidak pernah mereka mempermasalahkan kesulitan ekonomi. Kalau lelaki, mereka dicitrakan ”inilah lelaki idaman”, tampan dan bergaya; kalau wanitanya, dilukiskan ”Warna yang lembut”, cantik dan manja. Maka barang-barang kosmetik menjadi penghias diri yang dicari. Kalau melihat penampilan golongan remaja yang dipropagandakan dalam iklan-iklan, filem atau dunia hiburan sering dicitrakan sebagai golongan yang ceria dan tertawa riang.
SHAHAROM TM SULAIMAN ialah pustakawan di Perpustakaan Negara Malaysia.

SUMBER : MIMBAR JUMAT